Malu bertanya dapat makanan, banyak bertanya langsung ke tujuan

AromaRPM – Alkisah di ceritakan dua orang pemuda sebut saja dia Mas Parmin dan Lek Parto. Suatu hari pujaan hatinya Mas Parmin ini sebut saja dia nduk Ningsih kena musibah, ayah dari nduk ningsih jatuh dari pohon dan mengalami patah tulang hingga pada akhirnya di rawatlah ayah dari nduk ningsih ini di tukang terapi tulang tradisional di sebuah desa di Kab Semarang.

Singkat cerita, setelah di pandu sama nduk ningsih tentang alamatnya, mereka berdua pun meluncur ke rumah pengobatan tradisional itu walaupun jam sudah menunjukan pukul 19.00 wib. Pastinya Mas Parmin ingin di cap oleh keluarga dari nduk Ningsih sebagai calon menantu idaman nan perhatian. Tak lama mereka sampai di sekitar kampung tempat pengobatan tradisonal itu. Mas Parmin yang seorang pemuda yang suka touring pun dengan cakap buka maps di hape nya, tentunya sambil telepon nduk ningsih.

“dek, mas sudah samapi depan mushola ni, belok mana?” suara mas Parmin di belakang telepon nya.

“Depan mushola itu belok kanan mas terus lurus aja, nanti perempatan yang ada pos ronda nya belok kiri, nanti rumah yang ada orang ramai2 mas” jawab nduk ningsih yang semangat karena kang mas tercintanya hampir tiba.

Tanpa nunggu aba-aba dari lek parto yang sedari nangkring di boncengan mas parmin meluncur ke arah yang sudah di kasih tau oleh adinda tersayang. Yang namanya masih desa kluthuk penerangan jalan pun belum merata. Lampu jalan hanya tersedia di depan rumah yang di lewati. Jika tidak ada rumah berarti memang tidak ada lampu.

“lek… lek parto… kok gelap banget yaa… pos ronda nya yang mana ya? g kelihatan jelas ni” tanya mas parmin ke lek parto yang sedari tadi juga bingung, karena banyak juga pos kampling di daerah itu.

“walaadalaah aku ya g tau min, lha gimana tadi petunjung ningsih?” jawab parto yang juga nyari-nyari rumah ramai di sekeliling pos kampling.

Tak sadar mereka pun berhenti sejenak untuk cek dan ricek lokasi serta menghubungi kembali dek Ningsih. Lha apesnya kok sinyal saat itu juga tidak nyantol walau satu bar pun.

“Walaahh leek, sinyal nya bluk” timpal parmin dengan nada kesal.

“Lhaa itu min, ada rumah yang ramai-ramai kayake itu dia, ini ada pos kampling, belok situ ada rumah yang ramai itu…” sahut lek Parto yang riang sambil naik ke boncengan parmin. Tanpa babibu lagi, bak insan yang sedang kangen, parmin muter gas kayak kesurupan. Tanpa nunggu lama mereka masuk ke halaman dan bertamu layaknya orang yang baru datang ke rumah orang.

Sama warga yang lain pun Parmin dan Parto di suruh ambil minum dan snack ala kadarnya di meja tidak jauh dari tempatnya duduk.

“walaahh lek to, baik banget tabib nya yaaa” gumam parmin pada lek parto. walaupun hanya sncak ala kadarya dan teh hangat cukup menghapus dahaga mereka yang lama menempuh perjalanan malam itu.

“Iya min, lumayan, buruan di habisin kita masuk ke dalam, jenguk terus pulang dah malam ni” sahut Lek Parto.

Tak berselang lama, Parmin pun inisiatif tlpn dan sms dek ningsih kalau dia sudah sampai di depan rumah. Lha karena terhalang sinyal yang kurang bagus, sms nya pun pending ntah masuk atau tidak. Isi sms nya kurang lebih sepeti ini “nduk, mas sudah di depan rumah, bpk di rawat sebelah mana? kamu jemput sini bentar ya”.

Agak lama juga menunggu, akhirnya sms balasan nya masuk jug..

“Mas sampeyan dimana? aku di depan ni kok g ada?” jawab nduk ningsih.

Perasaan kurang enak pun menghampiri mas Parmin.

“lek, kok katane ningsih sudah di depan rumah, lha mana ya?” Parto pun yang terkejut sedari tadi di depan rumah kok di bilang tidak ada. Sambil inisiatif lek Parto tanya basa basi tanya kepada orang di sebalahnya.

“Mas disini nunggu siapa?” tanya Parto.

Ini saya nunggu bapak mas” sahut Pria sebelahnya. Merasa tenan parto pun berujar pada parmin, bahwa di sebelahnya juga nunggu, jadi bener.

“Lha bapak nya sakit apa mas? jatuh?” tanya Parto.

“hahh sakit? bapak saya sehat kok mas. Itu masih di dalam ngobrol sama temen2 jamaah tahil dari desa sebelah”. Sahut pria tadi. Cleguuukk… bak di sambar gledek parto menoleh ke arah Parmin.

“Min, iki wong tahlilan min, bukan rumah tabib tradisional” bisik parto ke parmin. Parmin yang juga dari tadi nyimak pembicaraan parto dan pria tadi tiba-tiba linglung mau ngapain. Nggak mungkin jika langsung pamitan. Parmin pun dengan setengah gugup memastikan pada pria di sebelah parto,

“Jadi ini bukan rumah mbah tabib yang mengobati patah tulang ya mas?” tanya Parmin.

“Bukan mas, rumah mbah tabib masih kesana lagi. nanti perempatan belok kiri. Rumah yang besar” jawab pria tadi yang di artikan parmin sebagai guyuran air panas di muka nya yang merah karena malu. Tanpa babi bu parto dan parmin pun bergegas pamitan dan nyari rumah yang benar.

Sesampainya di rumah mbah tabib yang benar, mereka berdua di tertawain oleh semua orang di sana, termasuk sang calon bapak mertua.

“Masss… masss… lain kali kalau mau bertamu tanya-tanya mas biar ndak salah rumah” sahut ibu-ibu yang sambil setengah tertawa. Namun di jawab sama parto dan parmin dengan tersipu malu setengah mati.

Pelajaran yang bisa di ambil “Malu bertanya dapat makanan, banyak bertanya langsung ke tujuan”

Iklan

Tentang ki Salim

Bocah ingusan yang pengen ngeblog
Pos ini dipublikasikan di lucu-dan-inspiratif dan tag , , , , , . Tandai permalink.

Satu Balasan ke Malu bertanya dapat makanan, banyak bertanya langsung ke tujuan

  1. awansan berkata:

    hahahaha kesesatan yang nikmat ini jenenge

    https://awansan.com/

Silahkan berikan komentar di bawah

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s