Dilema Penjual Asongan Tersisih Karena Modernisasi

AromaRPM – Yang dingin… yang dingin… yang dingin… akua…akua…kua…kua mizon…mizon… mizoon.. atau cang goreng cang godok can….?? selanjutnya mungkin sudah pada tau. 10 atau 15 tahun silam masih rame dan mempunyai kesan tersendiri bagi saya yang familiar dengan sahutan demi sahutan oleh penjual asongan yang bisa ditemui di SPBU atau Terminal.

SPBU Subah, Batang

Masih cerita seputaran mudik lebaran kemarin, adanya arus mudik memang membawa berkah bagi banyak masyarakat. Seperti di SPBU Subah Batang, pada hari biasa cuma ada 2-3 penjual jajanan khas desa. Tahu asin, Kacang goreng, Kacang godok, kacang kedelai, roti, buah-buahan segar, minuman-minuman baik dingin atau tidak dan banyak sekali yang lainnya mereka jajakan dengan penuh kesabaran dan semangat meskipun hari tersebut lebaran. Namun saat arus mudik/balik tidak hanya 2-3 orang saja yang menjajakan, seakan jumlah tersebut naik 3 kali lipat. Lantas kenapa? masalah? bagi saya no problem, karena itulah atmosfer mudik yang tidak akan tergantikan dengan hari-hari biasa, nuansa-nuansa mudik yang memang membuat semuanya berbeda. Kebahagian dan berkah bagi semua kalangan. Miskin, kaya, pejabat rakyat jelata merasakan jika memang dia berhenti di terminal atau sekedar mengisi BBM di SPBU. Aqua nya pak?? Mizon pak?? yang dingin juga ada pak… mari pakk…. silahkan… kata-kata yang sangat khas dan bergemerincing indah di sela-sela istirahat saya.

Modern vs Asongan

Namun pada mudik kemaren bukan hanya suasana-suasana khas tempo dulu. Mereka tetap berjualan biasa, namun dari tahun ke tahun bukan tidak mungkin akan tergerus sedikit demi sedikit dengan andanya metode pemasaran yang di ikuti oleh pemilik modal besar/brand-brand ternama, terjun langsung ke konsumen. Dengan mengantongi ijin dari pemilik/manajemen yang disertai amplop yang berisi pastinya = sebut saja uang pajak aka setoran. Mereka dengan percaya diri membuka stand demi stand di terminal dan spbu dengan spg-spg yang aduhai di garis depan mereka siap mempromosikan dan menjual barang dagangan mereka.

Menurut pengalaman kemarin, dari segi harga memang sudah bukan lawan tanding oleh penjaja asongan. Sebut saja sebotol minuman berwarna biru dan ungu itu, 4 botol 600 ml ditaruh dalam tas cantik nan indah yang mungkin tas itu akan berguna di perjalanan cuma di hargai Rp. 12,000, sedangkan penjaja asongan menjajakan Rp. 6,000 – 7,000 perbotolnya. Sungguh persaingan yang tidak seimbang. Hal itu terjadi karena para penjual asongan harus membeli/ambil dari tengkulak yang memang harganya sudah di atas Rp 5,000 sedangkan para pemegang merk tinggal membuka lebar pintu pabriknya.

Persaingan, kehidupan memang kejam gaann…. mau bagaimana lagi mereka pun tidak mau rugi. Mahal pun tetap mereka jual berharap ada pembeli yang berminat membeli dagangannya. Saya pun sempat menerima rayuan dari mbak SPG yang aduhai tersebut. Buat penglaris lah… buat kejar target lah… ahhh terserah mau bilang apa… mau menolak dengan mengatakan “tidak” saya kira kurang etis… mengingat mereka juga mengais rizki di tengah lebaran ini. Sedikit cuap-cuap dan menegaskan kata “dingin” ya.. saya ingin mencari minuman dingin yang kebetulan tidak mereka jual, akhirnya dia mau melepaskan saya sebagai targetnya dan membiarkan saya membeli sebotol minuman yang sama (dengan harga lebih mahal tentunya) pada ibu-ibu 50 tahunan. Bukan masalah harga namun kepuasan batin saya. Mereka sehari dapat laku bepuluh-puluh botol, sedangkan penjual asongan dengan adanya stand tersebut laku 5 botol dalam persaingan bersama spg-spg nan cantik saya rasa sudah bagus.

Last… suasana mudik memang berbeda, semoga saya, anda dan keluarga kita masih merasakan mudik di tahun berikutnya amin…

Semoga para penjaja asongan tetap mendapatkan rizki dari usahanya…

ket : mohon maaf Penulis tidak membantu mempromosikan atau menyudutkan pihak tertentu namun murni hanya curahan hati seorang yang sering mampir di SPBU. Tulisan ini tidak ada sangkut pautnya dengan kasus minuman yang di campur dengan obat tidur atau sejenisnya yang pada akhirnya di salah gunakan. Jika mau membeli di asongan ingat harus tetap hati-hati.

Iklan

Tentang ki Salim

Bocah ingusan yang pengen ngeblog
Pos ini dipublikasikan di Umum dan tag , , . Tandai permalink.

5 Balasan ke Dilema Penjual Asongan Tersisih Karena Modernisasi

  1. Mase berkata:

    Ah hoax, endi spg ne…

  2. GandemLover berkata:

    aku pernah kudanan ning pom iku… 😀

Comment tidak bayar kok.. Silahkan...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s